TUGAS GURU BUKAN HANYA MENGAJAR

TUGAS GURU BUKAN HANYA MENGAJAR

(Oleh : Drs. JAHIDIN, M.Pd.)

Bila sampai terjadi salah persepsi di kalangan para guru bahwa tugas guru hanyalah mengajar mentransfer materi-materi pelajaran secara murni akibatnya tentu akan sangat fatal.

Telah dikukuhkan dalam Undang-undang bahwa  guru sebagai tenaga profesional yang memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik (UU RI No. 14 Tahun 2005).  Dari tugas itu sebagai konsekuensinya maka guru harus dapat menciptakan bangsa yang cerdas, beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur dan beradab. Dengan demikian tugas guru bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan sambil lalu dan dan dilakukan oleh sembarang orang. Itulah sebabnya, sebagai tenaga profesional, guru dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi sebagaimana ditentukan dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 10 dijelaskan bahwa  guru dalam rangka menjalankan tugasnya  harus memiliki 4 kompetensi yaitu : 1) kompetensi paedagogik; 2) kompetensi kepribadian; 3) kompetensi sosial; 4) kompetensi profesional.

Kompetensi-kompetensi tersebut di atas bagi guru bukanlah sesuatu hal yang dapat ditawar-tawar lagi. Namun banyak fakta menunjukkan seperti “film-film mesra” yang dilakukan oleh oknum pelajar banyak berseliweran dalam hand phon atau situs internet. Jangan-jangan ini gejala adanya kesalahan persepsi para guru terhadap tugasnya yang hanya mengutamakan mengajar dibandingkan dengan unsur mendidik.

Vidio adegan kekerasan oknum para pelajar terhadap pelajar lainnya, sampai-sampai tidak ketinggalan pelajar putri sekalipun saling adu jotos seperti diberitakan di TV. Bahkan beberapa waktu lalu sempat ditayangkan dalam televisi terbentuknya Geng anak-anak SD yang tindakannya menjurus pada tindak kriminal. Ini juga jangan-jangan akibat kesalahan persepsi guru terhadap tugasnya yang hanya dititik beratkan pada mengajarkan mata pelajaran belaka.

Perkosaan yang dilakukan oleh oknum pelajar yang sering diberitakan di media masa, juga satu pertanda merosotnya mental dan moral di kalangan para pelajar. Jangan-jangan tindakan itu akibat kurangnya guru memahami dan melaksanakan tugasnya secara menyeluruh sehingga kurang menyentuh pada aspek-aspek etika dan moral.

Sering tersebarnya berita bahwa banyak oknum pelajar yang “nyambi” jadi teman kencan Oom-oom, adalah berita yang sangat menyedihkan bagi dunia pendidikan kita. Lebih sadis lagi seperti diberitakan HU Priangan di Banjarsari siswa SLTA biasa ”menjual” temannya yang masih siswi MTs kepada para lelaki amoral. Jangan-jangan karena kurangnya penanaman mental dan moral kepada anak-anak didik kita karena para guru punya persepsi bahwa tugasnya hanya mengajar titik.

Penodongan, pencurian, penjambretan, narkoba, minuman keras, dan lain-lainnya juga banyak oknum pelajar yang tercebur di situ. Ini jelas sangat mengkhawatirkan dan menurunkan kredibilitas dunia pendidikan di mata masyarakat luas. Penyebabnya, jangan-jangan karena tidak seimbangnya pembinaan segi apektif, kognitif, dan psikomotor para pelajar yang dilakukan oleh para guru karena memiliki persepsi yang hanya bertugas sebagai pengajar.

Menyikapi kejadian-kejadian sebagaimana digambarkan di atas terlepas dari benar atau tidaknya “jangan-jangan” di atas,  dirasa tidak ada salahnya kita para guru introsfeksi diri sebagai evaluasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai guru. Kesadaran ini bukan saja sebagai imbal jasa dari semakin membaiknya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru misal dengan naiknya gaji dan tunjangan fungsional, adanya tunjangan profesi melalui sertifikasi yang jumlahnya cukup lumayan, adanya insentip dari Pemda Tk 2 (mudah-mudahan di Kab. Ciamis juga ada seperti di Kab./Kota yang lain). Namun masalah pendidikan merupakan tanggung jawab kita semua sebagai Warga Negara Indonesia terutama para guru negeri sesuai dengan janji yang diikrarkan di hadapan Tuhan YME sewaktu kita bersumpah ketika diangkat menjadi PNS. Dan janji ini harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya karena harus dipertanggung jawabkan baik secara horizontal maupun secara vertikal kepada Tuhan.

Kita para guru harus mempunyai komitmen untuk melaksanakan tugas  sepenuh hati dengan  disertai keikhlasan, karena hanya dengan komitmen itulah yang   akan dapat mendorong  kita untuk selalu berupaya melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara sungguh-sungguh. Dengan komitmen itulah kita rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan yang kita harapkan.

Kita coba memandang individu siswa dengan berdasar pada  hadits Nabi Muhammad s.a.w.  sebagai berikut : Kullu maoluudin yuuladu ’alal fitrati faabawaahu yuhawwidaanihi ao yunashshiraatihi ao yumajjisaanihi. Artinya : bahwa setiap anak yang dilahirkan adalah suci bersih. Maka dua orang ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasarani atau Majusi.

Sesuai dengan al hadits di atas dapat dipandang bahwa seorang siswa  adalah satu individu yang memiliki berbagai potensi yang harus dipupuk dan dikembangkan ke arah yang positif. Baik buruknya sikap, mental, pengetahuan, dan keterampilan seorang anak tergantung pada yang mengembangkannya. Dalam hal ini tentunya terletak pada tanggung jawab guru sebagai seorang pendidik.

Mau ataupun tidak mau gejala-gejala yang menunjukkan rendahnya sikap mental dan moral para pelajar, itu adalah merupakan produk hasil dari didikan kita para guru. Oleh karena itu, untuk menyikapi dan mencarikan solusi guna memperbaiki serta menghindari terjadinya prilaku-prilaku yang menyimpang dari para pelajar, maka para guru harus kembali pada tugasnya secara hakiki sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Sebagaimana telah disinggung di atas sebagai tenaga profesional  tugas guru yang utama adalah mendidik, dan mengajar. Mendidik dan mengajar  dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara seimbang dan terintegrasi pada semua mata pelajaran. Sehingga semua mata pelajaran yang diberikan kepada para siswa di dalamnya mencakup aspek-aspek pendidikan yang menanamkan segi-segi kepribadian, etika, moral, sopan santun, budi pekerti, serta unsur keimanan  dan ketakwaan kepada Tuhan YME.             Dengan demikian jelas bahwa tugas guru bukanlah hanya mengajar tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah mendidik.

Tidak ringan memang menjadi seorang guru yang profesional karena sebagai ujung tombak pendidikan guru memikul beban tanggung jawab yang terdepan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Nasional. Namun demikian sebagai guru yang profesional tidaklah berdiri sendiri, karena telah diatur dalam UU Sisdiknas bahwa kita juga harus dapat mendayagunakan dan bekerja sama dengan berbagai sumber daya yang ada, seperti orang tua dan masyarakat. Kita tahu bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah atau sekolah, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, alangkah baiknya bila sebagaimana yang dituangkan  dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas tidak hanya ada dalam dokumen tetapi terealisasikan berkat kerjasama dari seluruh stakeholder pendidikan. Ketentuan dimaksud diantaranya menjelaskan hal-hal sebagai berikut :

  1. Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan  penyelenggaraan pendidikan (pasal 6).
  2. Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya (pasal 7).
  3. Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan (pasal 8).
  4. Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan (pasal 9).

Dengan meningkatnya profesionalisasi guru dan kerjasama yang baik dari semua stakeholder pendidikan maka kecerdasan anak bangsa seperti yang diharapkan akan terwujud. Buah terindah dari upaya-upaya yang kita lakukan tiada lain akan terciptanya para siswa yang memiliki kecerdasan mental, spiritual, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Penulis adalah Kepala SLB Muhammadiyah Banjarsari Kabupaten Ciamis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: