DETEKSI DINI ANAK BERKELAINAN

DETEKSI DINI ANAK BERKELAINAN

( Oleh : Drs. Jahidin, M.Pd. )

Mempunyai anak yang normal adalah dambaan dan harapan setiap orang tua, namun terkadang kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Apa mau dikata apabila Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak lain dari apa yang kita idam-idamkan.  Walaupun terkadang sebagai manusia sulit untuk dapat menerima sesuatu kenyataan misalnya bila ternyata buah hati kita seorang yang sangat ditunggu-tunggu itu terlahir dengan keadaan dengan memiliki kelainan.

Dalam dunia pendidikan, kelainan anak dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok yaitu : tunanetra, tunarungu-wicara, tunagrahita, autis, tunadaksa, dan berkelainan ganda. Akan sangat baik pengaruhnya bagi anak bila orang tua dapat mengetahui tentang kelainan yang disandang oleh seorang anak secara dini. Sehingga bila seorang anak mengalami suatu kelainan, kita akan dapat melakukan suatu terapi secara dini pula, baik itu terapi secara medis, maupun paedagogis. Keterlambatan dalam memberikan terapi, justru akan menambah suatu kesulitan bagi anak yang bersangkutan.

Ada cara yang sangat sederhana untuk mendeteksi agar dapat mengetahui apakah seorang anak terlahir dengan memiliki suatu kelainan atau tidak. Dan cara-cara deteksi dini anak berkelainan ini dapat dilakukan oleh semua orang tua di rumah. Untuk kepentingan itu, penulis menguraikannya di bawah ini.

  1. Kelainan Tunanetra

Untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami kelainan ketunanetraan atau tidak, sejak anak masih kecil sudah dapat dilakukan yaitu dengan memainkan sesuatu benda yang berwarna-warni dan atau dengan benda yang bercahaya di hadapan anak. Pada anak yang normal tentu dengan adanya rangsangan tadi akan bereaksi. Bila benda itu digerakkan maka penglihatan anak akan mengikuti ke arah benda tadi digerakkan. Tetapi bila ternyata dengan adanya rangsangan tadi anak tidak bereaksi maka kita harus curiga dengan keadaan tersebut, dan langkah selanjutnya orang tua harus segera memeriksakan si buah hati ke dokter sepesialis mata, serta berkonsultasi untuk kepentingan paedagogisnya.

  1. Kelainan tunarungu

Untuk mengetahui ketunarunguan seorang anak, dapat diketahui dengan cara yang sangat sederhana sejak anak masih kecil, yaitu dengan cara membunyikan sesuatu misalnya dengan cara memanggilnya, atau dengan cara memukul-mukul kaleng dari arah belakang anak atau yang tidak terlihat. Mulai dengan bunyi suara yang pelan hingga yang keras. Dengan adanya rangsangan bunyi-bunyi tadi sudah barang tentu anak yang normal pendengarannya akan bereaksi menengok ke arah datangnya suara. Dan sebaliknya bila anak yang bersangkutan tidak bereaksi maka sudah barang tentu anak itu mengalami kelainan pendengaran.  Untuk mengetahui berat ringannya kelainan ketunarunguan dapat dilihat dari reaksi-reaksi yang terjadi dengan rangsangan suara yang berbeda-beda yakni mulai dari yang pelan, hingga bunyi yang keras. Dan untuk lebih jelasnya harus segera diperiksakan ke dokter THT.

Adapun suatu ciri anak yang mengalami kelainan pendengaran juga akan mengalami gangguan bicara, keadaan ini sebenarnya sebagai akibat dari ketidakmampuan mendengar. Karena bagi orang yang mengalami ketunarunguan maka dunia ini akan dirasakannya sunyi sepi tidak ada suara-suara yang dapat didengar dan ditirukannya. Mulai dari sejak kecil, anak tunarungu tidak dapat menirukan bunyi-bunyi suara atau bahasa sebagaimana layaknya, sehingga akibatnya organ bicaranya dapat menjadi kaku untuk bicara  karena tidak terlatih.

  1. Tunagrahita

Ketunagrahitaan  atau terbelakang mental atau “mentally retarded” atau debil, embisil, idiot apa pun istilahnya yang jelas kaitannya dengan rendahnya tingkat intelektual (IQ) seseorang. Tingkatannya ada yang ringan, sedang, dan berat.

Anak yang tunagrahita ada yang dapat dilihat hanya dengan sepintas saja akan ketahuan bahwa anak tersebut mengalami keterbelakangan mental, yaitu dilihat dari raut wajah yang disebut tipe “mongol”. Ciri-cirinya antara lain bentuk muka agak bulat, mata sipit, pandangannya sayu seperti orang bengong. Mungkin pernah melihat di beberapa tempat yang berjauhan sekalipun ada anak yang tampaknya seperti kembar dengan anak di daerah lainnya dengan ciri-ciri seperti di atas. Jelasnya setiap anak mongol ini wajahnya mirip-mirip.

Ciri-ciri lain biasanya dari segi fisik, yakni seorang anak yang mengalami ketunagrahitaan fisik atau motoriknya lemah. Semakin berat seseorang anak menyandang kelainan ini semakin lemah pula fisik dan motoriknya. Koordinasi geraknya sangat kurang, bahkan terkadang usianya sudah 8 tahun pun masih belum bisa memakai baju atau sepatu sendiri.  Bila diajak berkomunikasi pun lama kelamaan kurang nyambung, yakni sebagai akibat daya pikirnya yang lemah.

  1. Tunadaksa atau cacat tubuh

Untuk jenis kelainan ini tidak sulit untuk mengetahuinya karena cukup jelas dapat dilihat, misalnya cacat tangan, atau kaki.

  1. Autis

Tingkat autis adalah dari tingkat yang rendah hingga parah. Mengenai anak autis  ini bisa didiagnosa sejak anak masih kecil, yakni dengan memperhatikan prilaku seorang anak dibandingkan dengan ciri-ciri anak yang mengalami autis. Ciri-ciri anak autis diantarany : a) Mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. b) Mengalami kesulitan dalam berinteraksi social. c) Mengalami kesulitan dalam berprilaku, missal berprilaku cenderung monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang-ulang. Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, atau sebaliknya anak terlalu diam (pasip). Anak autis terkadang ada yang memiliki kelebihan dalam bidang musik, menggambar atau menghitung.

Bila gejala yang terlihat pada anak seperti ciri-ciri di atas maka dapat diduga bahwa anak itu mengalami autis. Dan langkah yang tepat selanjutnya memeriksakan anak ke dokter spesialis/psikiater.

Pada akhirnya segi positif yang dapat diambil dengan kita melakukan deteksi dini tentang kemungkinan kelainan terhadap anak-anak kita, maka kita akan mengetahui secara jelas bahwa buah hati kita normal sebagaimna yang diharapkan, sehingga kita bisa mengarahkannya ke pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya. Namun bila Tuhan berkehendak lain maka kita dapat bertidak lebih dini dan bijaksana yang sekiranya lebih menguntungkan bagi seorang anak yang menyandang kelainan. Yang harus kita lakukan tentunya terapi fisik, motorik, mental, dan memberikan pendidikan yang sekiranya lebih menguntungkan dan tidak memberatkan baginya demi gengsi orang tuanya.

Penulis adalah Kepala SLB Muhammadiyah Banjarsari Kabupaten Ciamis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: