KURIKULUM SDLB MUHAMMADIYAH BANJARSARI – KAB. CIAMIS 2012-2013

PERANAN MSDM DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SLB MUHAMMADIYAH BANJARSARI

INSPIRSI DARI SEORANG TUNARUNGU

INSPIRSI DARI SEORANG TUNARUNGU
Oleh : Drs. Jahidin, M.Pd.
(Kepala SLB Muhammadiyah Banjarsari Kab. Ciamis)

Tunarungu-wicara merupakan salah satu jenis kelainan yang terkadang dipandang sebagai suatu hambatan dalam berbagai segi kehidupan. Kesulitan demi kesulitan yang ada di hadapannya. Mulai dari masalah pendidikan sampai masalah pekerjaan. Terlebih kemandirian dan kreativitasnya sering disangsikan.
Apakah seorang tunarungu-wicara dapat mengikuti pendidikan ? Apakah seorang tunarungu dapat bergaul dengan orang-orang di sekelilingnya (termasuk orang yang bukan tunarungu-wicara)? Apakah seorang tunarungu-wicara mempunyai kreativitas ? Apakah seorang tunarungu dapat hidup mandiri ? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bernada menyangsikan kemampuan dan kredibilitas seorang tunarungu-wicara.
Pendidikan bagi anak tunarungu-wicara memang memerlukan khususan tetapi bukan berarti tidak mampu mengikuti pendidikan. Pada saat ini perhatian pemerintah kepada Anak Berkebutuhan Khusus (termasuk anak tunarungu-wicara) khususnya bidang pendidikan sudah berkembang cukup bagus. Hanya saja yang menjadi ganjalan masih banyak para orang tua anak berkelainan itu sendiri yang merasa gengsi dan minder bila harus menyekolahkan anaknya ke Sekolah Luar Biasa. Selanjutnya ada yang memaksakan ke sekolah umum dan yang lebih tragis lagi memilih anaknya tidak disekolahkan. Ini tentunya yang menjadi PR bagi kita yang peduli terhadap pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk melakukan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan bagi ABK termasuk anak tunarungu-wicara.
Kemampuan anak tunarungu-wicara setelah mengenyam pendidikan secara khusus akan berkembang sebagaimana mestinya. Sehingga mereka memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik. Mereka memiliki percaya diri, mampu berkomunikasi, bahkan mampu mengekspresikan ide-idenya untuk kemandirian hidupnya. Dengan kata lain seorang tunarungu-wicara memiliki kreativitas tidak ada bedanya dengan orang-orang pada umumnya.
Hasil studi kasus
Sebagai gambaran nyata dalam tulisan ini penulis ingin memberikan ilustrasi hasil studi kasus dari seorang tunarungu-wicara dengan harapan akan menjadi bahan renungan dan pelajaran khususnya bagi para orang tua ABK, dan para guru, serta masyarakat pada umumnnya.
Seorang tunarungu, Iip namanya, dia alumni dari SLB Muhammadiyah Banjarsari Kab. Ciamis. Iip sudah menikah dengan sesama tunarungu dan sudah mempunyai 2 orang anak (kedua anaknya normal) yang pertama sudah bersekolah di SD kelas 3 dan anaknya yang ke 2 sekolah di TK. Bagaimanakah Iip memenuhi kebutuhan hidupnya ? Iip sudah lama berdagang yakni sejak dia belum menikah. Iip dagang berkeliling menggunakan sepeda motor. Pagi hari Iip berdagang ke beberapa sekolah TK, SD, dan ke SLB, sore hari berjualan di TPA. Barang dagangan Iip berganti-ganti terkadang mainan anak-anak, dan makanan jajanan anak yang juga berganti-ganti. Seperti cimol, cilok, fried ciken, jus, makaroni, agar-agar, mie goreng, dan sebagainya. Alasannya dia berganti-ganti barang dagangan cukup masuk akal, yakni untuk menghindari kebosanan anak-anak pelanggannya. Barang dagangan Iip hasil buatan atau olahannya sendiri, bahkan bila musim layang-layang sepulang berdagang keliling Iip di rumah membuat layang-layang untuk dimasukan ke warung-warung.
Berapakah penghasilan Iip dari berdagang ? Setiap hari untung yang diperoleh Iip berkisar dari Rp. 60.000,- sampai dengan Rp. 100.000,- Iip terbiasa hemat sebagian keuntungannya ditabung kata dia untuk menyekolahkan anaknya. Kebiasaan hematnya sudah terlihat sejak dia menabung untuk membeli motor yang sekarang dipergunakannya berdagang (dulu Iip berdagang naik sepeda), selain itu juga menabung untuk membuat warung di rumahnya.
Sebuah inspirasi
Apa yang dapat diambil menjadi pelajaran dari sorang Iip bagi anak-anak tunarungu lainya bahkan bagi kita orang-orang pada umumnya ?
1. Keberanian : dalam keadaan tunarungu-wicara dia tidak merasa minder, dan berani untuk bergaul dan berkomunikasi dengan orang-orang pada umumnya. Walaupun bicaranya tidak sejelas yang normal bahkan harus berulang-ulang untuk dapat mengerti yanag dimaksud.
2. Keuletan : sikap ini sangat diperlukan bagi siapa pun dan ternyata dapat ditanamkan pada seorang tunarungu-wicara. Sehingga seorang Iip memiliki kegigihan dalam menjalani usaha berdagangnya.
3. Kreativitas : kreativitas merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai suatu keberhasilan. Dan ternyata sikap ini dapat dilakukan oleh seorang Iip dalam menyiasati dan trik-trik dalam berdagangnya.
4. Kemandirian : sudah jelas dengan keuletan berdagangnya dia menunjukkan kemandirian yang sangat baik, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
5. Berwawasan ke depan : dari keinginannya untuk terus menyekolahkan anaknya sudah jelas Iip mempunyai wawasan dan cita-cita jauh ke depan dan memiliki keinginan untuk memajukan anaknya.
Khususnya bagi para orang tua ABK dan para pendidik di SLB tentunya realita tersebut di atas dapat dijadikan sebagai sebuah inspirasi dalam rangka mengembangkan pendidikan yang lebih bermutu bagi Anak Berkebutuhan Khusus.

AUTIS

BELAJAR POWER POIN

PROGRAM KERJA SEKOLAH

RIPS SLB Muhammadiyah Banjarsari

KURIKULUM SLB BJS 2010-2011

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

ADMINISTRASI PEMBELAJARAN SDLB-B TKLB (SILABUS)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.