STRATEGI EFEKTIF PENGEMBANGAN SEKOLAH LUAR BIASA

STRATEGI EFEKTIF PENGEMBANGAN

SEKOLAH LUAR BIASA

MAKALAH :

Disampaikan dalam Lomba Kompetensi Kepala Sekolah Tingkat Provinsi Jawa Barat pada tanggal 20 Juli 2010

Oleh :

Drs. JAHIDIN, M.Pd.

NIP : 19610512 199003 1 004

Kepala SLB-ABC Muhammadiyah Banjarsari Kabupaten Ciamis

GUGUS 27 SLB KABUPATEN CIMIS

BIDANG PENDIDIKAN LUAR BIASA

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT

2010

LEMBAR PENGESAHAN

Telah disahkan oleh Panitia Lomba Kompetensi Kepala Sekolah Bidang Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat

PANITIA LKKS

…………………………………………………………..

NIP : ……………………………………………………………

DIPERIKSA DAN DINILAI OLEH TEAM PENILAI

PENILAI I

………………………………………………………..………….

NIP :……………………………………………………..

PENILAI II

……………………………………………………………………

NIP : ……………………………………………………………

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul  Strategi Efektif Pengembangan Sekolah Luar Biasa. Makalah ini disusun sebagai sumbangan pemikiran yang disampaikan dalam  pertemuan ilmiah Lomba Kreativitas Kepala Sekolah Tingkat Provinsi Jawa Barat, yang dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2010 bertempat di Hotel Bumi Asih Jaya Jl.Soekarno- Hatta Bandung.

Makalah tentang Strategi Efektif Pengembngan SLB ini didasari dengan keinginan untuk turut serta khususnya penulis dan juga sudah barang tentu para guru SLB mempunyai keinginan untuk selalu memperbaiki kinerjanya dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus. Namun demikian harus disadari bahwa kunci suatu keberhasilan dalam pengembangan suatu sekolah, tetap ditentukan oleh adanya kolaborasi dari semu pihak yang terkait. Melalui upaya yang terus menerus tanpa henti dalam memperbaiki dan memperkaya wawasan kita semua tentang pengembangan  sekolah, maka diharapkan pada saatnya SLB akan berkembang sesuai dengan yang diharapkan.

Pada kesemptan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ketua Kelompok Kerja Kepla Sekolah (KKKS) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) beserta seluruh guru yang ada di lingkungan gugus 27 SLB Kabupaten Ciamis, kepada pengawas  pembina dan seluruh jajaran di Bidang PLB Dins Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyampaikan materi dalam makalah ini. Dengan motivasi itu penulis diberi kesempatan untuk terus belajar dan terdorong untuk selalu membaca buku-buku referensi yang sangat penting bagi perkembangan pendidikn luar biasa.

Akhirnya, walaupun makalah ini masih banyak kekurangan, diharapkan akan menjadi pendorong bagi tumbuhnya bibit perbaikan secara bertahap di masa-masa awal untuk selanjutnya disempurnakan bersama-sama. Serta diharapkan kepada semua pihak, adanya saran-saran yang konstruktif untuk perbaikan makalah ini.

Ciamis, Juli 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………………………………………i

LEMBAR PENILAIAN……………………………………………………………………………………..ii

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………….iii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………iv

BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………………………………………..1

A. Latar Belakang …………………………………………………………………………….. 1

B. Rumusan Masalah……. ………………………………………………………………….. 4

C. Tujuan…………………………………………. ……………………………………………. 4

D. Manfaat………………………………………………. …………………………………….. 4

BAB II. KAJIAN TEORITIS …………………………………………………………………5

A. Pengertian Sekolah Luar Biasa…………………………………………………………5

B.  Tujuan Sekolah Luar Biasa…………………………………………………………….. 9

C. Fungsi Sekolah Luar Biasa ……………………………………………………………… 9

D. Strategi Efektif Pengembangan Sekolah Luar Biasa……………………………..11

1. Kurikulum…………………………………………………………………………………..11

2. Kebijakan Sekolah………………………………………………………………………..14

3. Profesionalisme Ketenagaan …………………………………………………………15

4. Sarana dan Prasarana…………………………………………………………………..17

5. Manajemen Sekolah…………………………………………………………………….19

BAB III. PEMBAHASAN……………………………………………………………………………….33

A. Penerapan Strategi Efektif dalam Pengembangan SLB………………………..33

1. Kurikulum………………………………………………………………………………….34

2. Kebijakan Sekolah……………………………………………………………………….35

3. Profesionalisme Ketenagaan …………………………………………………………36

4. Sarana dan Prasarana…………………………………………………………………..37

5. Manajemen Sekolah…………………………………………………………………….37

B. Tahap-tahap Pelaksanaan Strategi Efektif Pengembangan SLB…………….38

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………………………41

A. Kesimpulan………………………………………………………………………………41

B. Saran……………………………………………………………………………………….41

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………….43

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hak untuk memperoleh pendidikan merupakan hak semua warga negara, tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus. Hal ini telah ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 31 maupun pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanl pasal 5 ayat 2 yang dengan tegas menyatakan bahwa “Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus”. Oleh karena itulah, sudah sewajarnya pemerintah dan kita semua memberikan perhatian yang  baik terhadap penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Sehingga apa yang diharapkan dan diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan tanggaung jawab kita semua bangsa Indonesia dapat terealisasikan dengan baik, termasuk di dalamnya bagi anak berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus atau anak penyandang cacat memiliki kelainan dalam hal fisik, mental, atau sosial. Sebagai individu yang memiliki kekurangan maka mereka pada umumnya sering dianggap kurang memiliki rasa percaya diri dan cenderung menutup diri dari lingkungannya. Pandangan masyarakat yang kurang positif juga justru menambah beban permasalahan bagi para penyandang cacat. Sebenarnya dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada pada mereka harus disikapi secara positif agar mereka dapat dikembangkan seoptimal mungkin potensinya dan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, serta pembangunan bangsa.

Dalam rangka memberdayakan dan memenuhi hak-hak bagi anak berkebutuhan khusus, pengelolaan pendidikan luar biasa dituntut untuk dapat memotivasi dan mengembangkan potensi mereka dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang ada dalam program-program sekolah pengembangan potensi peserta didik merupakan hal yang penting dari pelaksanaan proses pembelajaran, guna membekali siswa  kelak dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga dapat hidup mandiri, mampu berkompetisi, dan berani mempertahankan kebenaran, serta eksis dalam kehidupan bermasyarakat minimal mempunyai kemampuan untuk menolong dirinya sendiri.

Berbagai upaya telah banyak dan tak pernah berhenti dilakukan mulai dari tingkat pusat hinggga di tingkat sekolah untuk mengembangkan pendidikan bagi ABK di SLB yang semakin bermutu, namun realita yang ada masih menunjukkan belum tercapainya apa yang dicita-citakan kita semua. Mutu ABK selama masih dalam proses hingga setelah lulus dari SLB masih diragukan untuk mampu hidup bermasyarakat secara wajar. Hal ini merupakan tantangan dan kewajiban kita semua terutama stake holders pendidikan luar biasa sudah semestinya mencarikan akar permasalahan yang pada akhirnya dapat menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dapat menghambat perkembangan menuju sekolah yang bermutu.

Kondisi sebagaimana digambarkan di atas tentu ada kaitannya dengan fakta di lapangan yang menunjukkan masih lemahnya dalam bidang-bidang seperti kurikulum, kebijakan sekolah, profesionalisme ketenagaan, sarana prasarana, dan manajemen sekolah.

Relevansi dan kedalaman kurikulum tingkat satuan pendidikan masih perlu disempurnakan, sehingga sesuai dengan kebutuhan peserta didik ataupun kebutuhan lapangan kerja di masyarakat.

Faktor lainnya adalah kebijakan sekolah yang masih perlu dipertegas agar dapat mengikat suatu komitmen bersama  untuk mengembangkan sekolah secara optimal.

Karena berjalan tidaknya program-program sekolah akan sangat tergantung pada kebijakan sekolahnya.

Profesionalisme ketenagaan masih belum mencapai kualifikasi  yang diharapkan, baik dilihat dari kualifikasi akademik maupun dari segi pengalaman kerjanya. Dikemukakan dalam Petunjuk Teknis Rotasi, Mutasi, dan Promosi Tenaga Pendidik dan Kependidikan SLB Bidang Pendidikan Luar Biasa Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Tahun 2010/2011  bahwa :” 34% tenaga pendidik masih belum memenuhi kualifikasi yang sesuai untuk tenaga pendidik pada pendidikan khusus.”

Faktor sarana prasarana sekolah-sekolah yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus, masih sangat memprihatinkan. Pada sebagaian besar SLB ruang kelasnya saja masih kurang, bahkan banyak sekolah yang hanya memiliki 1 atau 2 ruangan kelas saja.

Faktor yang terakhir masalah manajemen sekolah, hal ini penting sekali karena semua sumber daya yang ada di sekolah yang mencakup man, material, and money tanpa dimanaje dengan baik sudah tentu tidak akan banyak berarti bagi perkembangan sekolah. Untuk itu pengetahuan yang dirasakan masih kurang tentang manajemen sekolah bagi para kepala sekolah maupun tenaga yang lainnya perlu ditingkatkan lagi, sehingga para kepala sekolah khususnya maupun guru-guru dapat memahami, mengerti dan pada akhirnya dapat melaksanakan manajemen sekolah dengan baik.

Atas dasar pemikiran tersebut di ataslah maka diperlukan satu strategi yang efektif untuk mengembangkan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah luar biasa. Oleh karena itulah, dalam makalah ini akan dibahas tentang strategi yang efektif untuk pengembangan sekolah luar biasa.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : “Bagaimanakah strategi yang efektif untuk mengembangkan pendidikan di sekolah luar biasa ?”

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menemukan strategi yang efektif untuk mengembangkan pendidikan di sekolah luar biasa.

D. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dari makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai masukan bagi guru-guru dan stakeholders lainnya dalam upaya mengembangkan pendidikan di SLB.
  2. Sebagai masukan bagi guru  tentang strategi yang efektif dalam pengembangan SLB.
  3. Sebagai pedoman untuk melakukan tugas-tugas dalam rangka mengembangkan pendidikan di SLB.
  4. Sebagai sumbangan pemikiran untuk memperkaya ilmu pengetahuan khususnya bidang pendidikan luar biasa.

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Pengertian Sekolah Luar Biasa

Tempat penyelenggaraan pendidikan dibagi menjadi tiga lingkungan yaitu formal, informal dan non formal. Sekolah Luar Biasa adalah sebuah lembaga pendidikan formal yang melayani pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sebagai lembaga pendidikan SLB dibentuk oleh banyak unsur yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan, yang  proses intinya adalah pembelajaran bagi peserta didik.

Dalam ketentuan umum UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 1 dikemukakan bahwa : “Proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara” (UU Sisdiknas, 2006 : 72).  Bertitik tolak dari tujuan itulah setiap lembaga pendidikan termasuk di dalamnya Sekolah Luar Biasa hendaknya bergerak dari awal hingga akhir sampai titik tujuan suatu proses pendidikan, yang pada akhirnya dapat “mewujudkan terjadinya pembelajaran sebagai suatu proses aktualisasi potensi peserta didik menjadi kompetensi yang dapat dimanfaatkan atau digunakan dalam kehidupan” (Hari Suderadjat, 2005 : 6).

Syafaruddin (2002 :87)  mengemukakan bahwa : “Dalam system pendidikan nasional Indonesia sekolah memiliki peranan strategis sebagai institusi penyelenggra kegiatan pendidikan.” Oleh  karena itu,  jelaslah bahwa Sekolah Luar Biasa memiliki dan mengemban tugas yang berat tetapi penting.  Berat karena harus selalu berperang menghadapi berbagai kelemahan, ancaman dan tantangan guna menselaraskan program-program kegiatan yang terealisir dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang bergerak demikian cepat. Penting, karena tugas-tugas dan fungsi sekolah sangat diperlukan untuk mengembangkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus demi kelangsungan hidupnya yang harus selalu dinamis dan optimis.

Melihat kedudukan  sekolah yang demikian pentingnya Syafaruddin (2002 : 88) mengatakan bahwa : “ sekolah menjadi pusat dinamika masyarakat. Keberadaan sekolah menjadi institusi sosial yang menentukan pembinaan pribadi anak dan sosialisasi serta pembudayaan suatu bangsa.”

Di balik fungsi dan peranan sekolah yang sangat esensial bagi perkembangan pribadi peserta didik, masyarakat dan bangsa, serta tingginya harapan masyarakat terhadap sekolah ada satu realita yang masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat. Dengan kata lain lembaga-lembaga sekolah masih berkualitas rendah dan belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Hal itu tercermin dari rendahnya kualitas lulusan sekolah yang diekspresikan dengan menganggurnya siswa-siswa yang telah lulus sekolah.  Bahkan dalam realita keseharian terlihat para lulusan yang belum dapat hidup mandiri untuk mengatasi persoalan kehidupannya sehari-hari. Hal ini sebagai cerminan masih rendahnya kualitas sumber daya manusia sebagai output pendidikan di Sekolah Luar Biasa. Gambaran di atas sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hari Suderadjat (2005 : 4) yang mengemukakan bahwa  “lulusan  sekolah  khususnya  di  Indonesia  dinilai  bermutu rendah dalam komparasi Internasional”.

Sejalan dengan pendapat Hari Suderajat dikemukakan pula tentang lemahnya mutu pendidikan kita oleh Syafaruddin (2002 : 19) sebagai berikut :

Dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan masyarakat. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan, penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas, atau cenderung tambal sulam, bahkan lebih orientasi proyek. Akibatnya, seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan, baik industri, perbankan, telekomunikasi, maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Bahkan SDM yang disiapkan melalui  pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak, moral, dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa.

Berangkat dari kenyataan di atas maka mau tidak mau harus dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keberhasilan sekolah sehingga menjadi lembaga pendidikan yang efektif dan produktif. Terwujudnya Sekolah Luar Biasa yang efektif dan produktif merupakan suatu ciri bahwa sekolah itu berhasil dalam mengemban dan menjalankan tugas dan fungsinya. Sondng P. Siagian (dalam Syafaruddin, 2002 : 97) mengemukakan bahwa : “Organisasi yang berhasil adalah organisasi yang tingkat efektivitas dan produktivitasnya makin lama makin tinggi.” Oleh sebab itu, dikemukakan Sondang P. Siagian (2002 : 1) bahwa :”Produktivitas suatu organiasasi harus selalu dapat diupayakan untuk terus ditingkatkan, terlepas dari tujuannya, misinya, jenisnya, strukturnya, dan ukurannya. Aksioma tersebut berlaku bagi semua jenis organisasi.” Jadi, sesuai  dengan pendapat tersebut, tentunya termasuk di dalamnya organisasi pendidikan atau Sekolah Luar Biasa harus melakukan   berbagai  upaya guna meningkatkan efektivitas dan produktivitasnya, sehingga apa yang diharapkan dapat dicapai secara optimal.

Untuk melihat keberhasilan suatu sekolah tentu harus diukur dengan kriteria sebagaimana dikemukakan Sergiovanni dan Carver (H.M. Daryanto, 2006 : 17) bahwa ada empat tujuan yaitu :

Efektivitas produksi, efisiensi, kemampuan menyesuaikan diri (adaptiveness), dan  kepuasan kerja, dapat digunakan sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu penyelenggaraan sekolah. Efektivitas produksi, yang berarti menghasilkan sejumlah lulusan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku.

Menelaah perkembangan yang terjadi di sekolah dan lulusan sekolah sebagai refleksi dari kualitas layanan pendidikan  dibandingkan dengan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang di dalamnya meliputi : (1) Sandar Isi, (2) Standar Proses, (3) Standar Kompetensi Lulusan, (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (5) Standar Sarana dan Prasarana, (6) Standar Pengelolaan, (7) Standar Pembiayaan, dan (8) Standar Penilaian Pendidikan, ternyata masih banyak kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Hal ini terlihat dengan masih rendahnya mutu kompetensi lulusan, masih kurangnya profesionalisme guru dalam mengelola pembelajaran, masih banyaknya guru yang belum berkualifikasi akademik S1, masih rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarkat, dan sebagainya. Dengan kata lain, fenomena yang terlihat dalam lembaga pendidikan Sekolah Luar Biasa saat ini masih rendah mutu layanannya. Kualitas layanan pendidikan  tersebut dicerminkan dengan  suatu ukuran tingkat daya hasil suatu program yang menjadi tanggung jawab sekolah.

Demikian pentingnya masalah mutu layanan pendidikan sehingga mempunyai kaitan yang sangat erat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Greiner (2000) dan Riportela Couste dan Torres (2001) . (Tersedia :http/Google.pakguruonline ) sebagai berikut :

Perhatian pada mutu layanan pendidikan yang menekankan pada kepuasan siswa muncul dalam rangka menarik para calon siswa, melayani dan mempertahankan mereka. Peningkatan mutu pendidikan termasuk di dalamnya mutu layanan akademik dan mutu pengajaran merupakan upaya-upaya yang harus dilakukan agar kepuasan pelanggan dapat diberikan secara optimal. Namun pada beberapa masalah layanan pendidikan pada sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesia menjadi kendala dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Dalam upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan di  Sekolah Luar Biasa tidak dapat terlepas dan harus didukung oleh berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) diantaranya  pihak masyarakat. Hal ini penting karena masyarakat memiliki peran yang sangat diperlukan oleh sekolah. Mengenai hal ini diungkapkan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 (Hadiyanto, 2004 : 85) sebagai berikut

1) Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah. 2) Komite sekolah/madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan  dan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.

Peranan-peranan itulah yang diperlukan dari pihak masyarakat guna meningkatkan mutu layanan penidikan di sekolah. Diperoleh beberapa keuntungan dengan adanya partisipasi masyarakat. Dikemukakan oleh Aan Komariah dan Cepi Tritna (2006 : 5) bahwa : “Keputusan tentang bagaimana berlangsungnya sekolah yang didasarkan atas partisipasi diharapkan akan dapat menumbuhkan rasa memiliki bagi semua kelompok kepentingan sekolah.” Dengan adanya rasa memiliki maka akan tumbuh rasa tanggung jawab terhadap pengembangan sekolah.

B. Tujuan Sekolah Luar Biasa

1.  SDLB dan SMPLB  bertujuan untuk :

”Meletakkan dasar kecerdasan , pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta  keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.”

2.  SMALB bertujuan untuk :

”Meningkatkan kecerdasan , pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan   untuk hidup mandiri dan dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.”

C. Fungsi   Sekolah Luar Biasa

Di atas telah disinggung tentang adanya tiga bentuk pendidikn yaitu pendidikan formal, informal, dan non formal. Pendidikan formal inilah yang disebut sekolah, termasuk di dalamnya Sekolah Luar Biasa.

Sekolah merupakan lembaga yang sangat strategis dan memiliki fungsi yang sangat penting dalam mengembangkan pendidikan. Banyak pendapat yang mengemukakan tentang fungsi sekolah diantaranya dikemukakn oleh H. Hadari Nawawi (1982 : 27) sebagai berikut :

Peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, baik secara individual maupun sebagai anggota masyarakat. … Oleh karena itulah maka dapat dikatakan bahwa fungsi sekolah adalah meneruskan, mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan suatu masyarakat, melalui kegiatan ikut membentuk kepribadian anak-anak agar menjadi manusia dewasa yang mampu berdiri sendiri di dalam kebudayaan dan masyarakat sekitarnya.

Mukhlison (22 Desember 2008 : Tersedia : http://www.balinter.net) mengemukakan bahwa :

Fungsi sekolah adalah : 1. Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan, dan diharapkan anak yang telah menyelesaikan sekolahnya dapat melakukan sesuatu pekerjaan atau paling tidak sebagai dasar dalam mencari pekerjaan. 2. Sekolah memberikan keterampilan dasar. 3. Sekolah membuka kesempatan untuk memperbaiki nasib. 4. Sekolah menyediakan tenaga pembangunan. 5. Sekolah membentuk manusia sosial.
Kedua pendapat di atas pada dasarnya sama dan saling melengkapi tentang fungsi sekolah dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut di atas maka Sekolah Luar Biasa sebagai lembaga pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Tempat pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang memberikan dasar-dasar pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

2. Memberikan rehabilitasi bagi anak-anak yang memiliki hambatan baik fisik, mental, emosi,  maupun sosial.

3. Mengembangkan life skill bagi anak-anak berkebutuhan khusus sebagai bekal untuk dapat mandiri dalam kehidupannya bermasyarakat.

4. Membentuk anak-anak yang berbudaya dan menjadi warganegara yang  sadar akan hak dan kewajibannya.

Demikin pentingnya fungsi sekolah bagi kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,  yang pada akhirnya tertuju pada kesejahteraan manusia. Oleh karena itulah, pengembangan Sekolah Luar Biasa semestinya mendapat suatu perhatian yang semakin bermutu dengan terobosan-terobosan upaya  yang tidak pernah berhenti dilakukan oleh semua pihak. Pelaksanaan evaluasi pun  semestinya tidak dilupakan karena maju mundurnya pengembangan sekolah akan signifikan dengan upaya-upaya perbaikan yang selalu dilakukan sebagai tindak lanjut dari  hasil evaluasi.

Sesungguhnya masih belum memuaskan pengembangan sekolah sebagaimana yang kita idam-idamkan bersama sesuai dengan fungsi sekolah dan memenuhi kriteria minimal yang tertuang dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Untuk itu, pada makalah ini penulis menyumbangkan pemikiran tentang Strategi Efektif Pengembangan Sekolah Luar Biasa.

D. Strategi Efektif Pengembangan SLB

Sebagai upaya untuk mengembangkan SLB ke arah yang diharapkan  maka diperlukan strategi yang efektif.  Strategi efektif adalah suatu teknis atau langkah-langkah yang tepat untuk mengembangkan sekolah agar menjadi lembaga pendidikan yang bermutu sesuai dengan yang diharapkan. Sebagai stakeholders pendidikan anak berkebutuhan khusus tidak ada alasan untuk mengabaikan masalah mutu dalam menyelenggarakan pendidikannya, karena dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pada pasal 5 ayat 1 ditegaskan bahwa “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”.

Ada lima hal yang sangat dominant sebagai strategi efektif untuk mengembangkan SLB yaitu :

1. Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Panduan Penembangan KTSP Pendidikan Khusus, 2007 :1). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya setiap peraktek pendidikan diarahkan untuk mencapai tujuan, baik yang berkenaan dengan pengetahuan, sikap, maupun keterampilan (kognitif,afektif,dan psikomotor). Kurikulum ini merupakan ciri atau syarat mutlak adanya suatu sekolah. Berhasil atau tidaknya suatu sekolah salah satunya akan ditentukan oleh kurikulum yang telah disusun. Oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997 : 151) hendaknya memperhatikan beberapa faktor yaitu relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas. Relevansi maksudnya bahwa tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum harus relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat.

Kedua yaitu factor fleksibilitas, ini perlu diperhatikan untuk menyesuaikan  dengan kondisi yang ada seperti kondisi daerah, latar belakang siswa, dan potensi siswa, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketiga adalah kontinuitas, yaitu kesinambungan. Perkembangan dan proses pembelajaran siswa berlangsung secara berkesinambungan anatara satu tingkat kelas dengan kelas selanjutnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang pendidikan  berikutnya, dan juga antara jenjang pendidikan dengan dunia kerja.

Keempat yaitu praktis, artinya bahwa kurikulum itu mudah dilaksanakan, karena betapa pun idealnya suatu kurikulum kalau sulit untuk dilaksanakan maka sudah barang tentu kurikulum tersebut tidak akan sampai pada tujuan yang diharapkan. Itulah sebabnya, di samping kurikulum itu harus ideal juga harus praktis.

Kelima yaitu efektivitas, maksudnya walaupun kurikulum itu harus praktis dan efesien tetapi faktor keberhasilan harus tetap diprioritaskan.

Adapun sebagai acuan utama dalam penyusunan kurikulum ada dua hal   dari standar nasional pendidikan  yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. Panduan dimaksud ada dua bagian yaitu panduan umum yang  memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan  dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL. Bagian kedua yaitu model KTSP, sebagai contoh hasil pengembangan KTSP yang mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada Panduan Umum (Panduan Penyusunan KTSP Pendidikan Khusus, 2007 : 1).

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan hendaknya berdasarkan pada beberapa prinsip sebagai berikut (Panduan Penembangan KTSP Pendidikan Khusus, 2007 :3) :

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
  2. Beragam dan terpadu, yaitu memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan.
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan, untuk itu pengembangannya melibatkan stakeholders sehingga terjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan, yaitu mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan.
  6. Belajar sepanjang hayat, yaitu bahwa kurikulum diarahkan pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepetingan daerah.

Dengan memperhatikan beberapa ketentuan dan prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum sebagaimana diuraikan di atas, yang terpenting dalam pelaksanaannya di Sekolah Luar Biasa hendaknya memperhatikan tingkat relevansi dengan kebutuhan dan potensi siswa, serta penentuan materi yang tidak terlalu melebar tetapi sangat intensip.

2. Kebijakan Sekolah

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai kebijakan mulai dari UUD 1945, Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanl, Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas No. 12 Tahun 2007 tentang Kompetensi Pengawas Sekolah, Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Kompetensi Kepala Sekolah, Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Kompetensi Guru, Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Sandar Isi, Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan masih banyak lagi kebijakan-kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk pengembangan pendidikan. Kebijakan-kebijakan tersebut sangat penting adanya sebagai dasar untuk melaksanakan berbagai kegiatan pendidikan di sekolah. Namun perlu disadari bawa keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan, kuncinya tetap ada di sekolah. Selengkap apapun ketentuan pemerintah untuk mengembangkan pendidikan di sekolah, tetapi tanpa adanya pelaksanaan program-program pendidikan di tingkat sekolah maka kebijakan-kebijakan tersebut akan menjadi kurang berarti bagi perkembangan pendidikan. Oleh karena itu, sebagai kelanjutan dan merupakan kebijakan operasional yang sangat penting adalah adanya kebijakan sekolah.

Kebijakan Sekolah merupakan hasil kesepakatan bersama semua stakeholders pendidikan di lingkungan sekolah yang berkenaan dengan tata aturan dalam melaksanakan proses pembelajaran maupun segala hal yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan sekolah dalam menjalankan fungsinya. Tanpa adanya kesepakatan atau kebijakan sekolah maka pelaksanaan pendidikan di sekolah tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

Kita ketahui bahwa sekolah merupakan ujung tombak pelaksanaan pendidikan, sehingga berdayagunanya segala fasilitas yang ada tetap tergantung pada pelaksanaannya di sekolah. Semua kegiatan yang ada di sekolah, baik buruknya pelaksanaan pengajaran dan pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh kebijakan yang ada di sekolah. Dengn demikian begitu pentingnya kedudukan Kebijakan Sekolah dalam upaya pengembangan SLB, sehingga setiap SLB sangat perlu untuk membuat suatu kebijakan sekolah sebagai komitmen bersama dalam melaksanakan proses pendidikan.

3. Profesionalisme Ketenagaan

Dalam PP 19 Tahun 2005 pasal 28 dan pasal 29 telah ditentukan kualifikasi akademik dan kompetensi yang harus dipenuhi  sebagai pendidik anak berkebutuhan khusus. Kompetensi yang harus dipenuhi mencakup 4 kompetensi yaitu : a. Kompetensi pedagogik; b. Kompetensi kepribadian; c. Kompetensi profesional; dan d. Kompetensi Sosial.  Ketentuan yang lebih terperinci dijabarkan dalam Permendiknas No. 16 Tahun 2007 yaitu tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Mengenai tugas guru dijelaskan dalam UU No 14 Tahun 2005 pasal 1 sebagai berikut :”Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. ” (Citra Umbara, 2006 : 1). Ketentuan ini semestinya dapat mendorong dan memacu para guru untuk dapat menyandang gelar dan layak dengan setatus sebagai tenaga profesional. Mengenai pengertian profesional telah dijelaskan dalam pasal 1 butir 4 UU No. 14 Tahun 2005 (Citra Umbara, 2006 : 3) sebagai berikut :

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Selain tenaga pendidik di SLB semestinya juga memiliki tenaga kependidikan sebagaimana dijelaskan dalam pasal 35 butir PP 19 Tahun 2005 (Citra Umbara, 2006 : 191) sebagai berikut :

SDLB, SMPLB, SMALB atau bentuk lain yan sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, tenaga kebersihan sekolah, teknisi sumber belajar, psikolog, pekerja sosial, dan terapis.

Berdasar pada ketentuan-ketentuan sebagaimana digambarkan di atas maka dapat dibandingkan dengan kenyataan di lapangan yang pada saat ini ternyata masalah ketenagaan ini belum sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Oleh karena itu, untuk pengembangan SLB yang semakin bermutu maka diperlukan penataan dan peningkatan ketenagaan yang profesional. Ketenagaan yang profesional akan menentukan berhasil atau tidaknya pengembangan sekolah luar biasa. Dengan demikian bila mengharapkan untuk mewujudkan SLB yang berkembang sesuai dengan yang diharapkan maka pembinaan masalah ketenagaan untuk menjadi tenaga yang profesional, tidak dapat ditawar-tawar lagi, bahkan hendaknya menjadi prioritas utama sebelum mengembangkan bidang-bidang lainnya.

Untuk dapat berlangsungnya kegiatan pendidikan di sekolah, unsur manusia merupakan unsur penting, karena kelancaran pelaksanaan program-program sekolah sangat ditentukan oleh orang-orang yang melaksanakannya. Dengan demikian, hal tersebut harus betul-betul disadari oleh semua personil sekolah, sehingga dengan segala kemampuannya dengan bimbingan kepala sekolah akan terus berupaya mengelola sumber daya yang ada untuk pengembangan sekolah.. Semua personil yang ada di sekolah harus memegang prinsip seperti yang dikemukakan oleh H.M. Daryanto (2006 : 29) bahwa :

Bagaimanapun lengkap dan modernnya fasilitas yang berupa gedung, perlengkapan, alat kerja, metode-metode kerja, dan dukungan masyarakat akan tetapi apabila manusia-manusia yang bertugas menjalankan program sekolah itu kurang berpartisipasi, maka akan sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang dikemukakan.

Personalia atau tenaga kependidikan yang dimaksud di sini adalah semua orang yang tergabung untuk bekerja sama pada suatu sekolah untuk melaksanakan tugas-tugas dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Personalia atau Tenaga kependidikan di sekolah meliputi  kepala sekolah, wakil kepala sekolah,  guru, pegawai tata usah, dan pesuruh. Agar kegiatan-kegiatan di sekolah berlangsung secara harmonis maka semua personel yang ada itu harus mempunyai kemampuan dan kemauan, serta bekerja secara sinergi dengan melaksanakan tugasnya masing-masing dengan sungguh-sungguh dengan penuh dedikasi.

4. Sarana Prasarana

Sebagai kelengkapan untuk dapat berjalannya suatu program dengan baik tidak terlepas dari ketersediaan sarana dan prasarana, tentunya dengan segala keriterianya  sesuai dengan kebutuhan. Jadi, apabila SLB ingin berkembang secara optimal sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat maka unsur sarana dan prasarananya juga merupakan hal yang mutlak diperlukan.  Hal tersebut sesuai dengan  PP 19 pasal 42 (Citra Umbara, 2006 : 196) yang menegaskan sebagai berikut :

(1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yan meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengakapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

(2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Sarana dan prasarana yang disebutkan di atas tentunya dengan krieria-kriteria yang intinya dapat menunjang terhadap keberhasilan proses pembelajaran.

Mengingat betapa pentingnya unsur sarana dan prasarana pendidikan ini, ditegaskan pula dalam PP 19 tahun 2005 pasal 1 ayat 8 bahwa : Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Sarana dan prasarana yang ada tidak akan bermanfaat secara optimal tanpa dikelola dengan baik. Oleh karena itu,  sarana dan prasarana harus dikelola agar dapat berdaya guna untuk menunjang kelancaran, dan memberi kemudahan-kemudahan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Dalam mengelola sarana dan prasarana harus dilakukan secara profesional, yakni sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan yang di dalamnya mencakup fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan dan penilaian. Dengan pengelolaan yang profesional segala fasilitas yang ada akan berdaya guna, karena semua fasilitas yang ada telah melalui proses pertimbangan yang matang. Pengadaannya telah disesuaikan dengan kebutuhan, dipertimbangkan segi kebermaknaannya, kepraktisannya, dan nilai estetikanya. Sehingga adanya sarana dan prasarana betul-betul memberi kemudahan, menimbulkan rasa senang, dan memberi kenyamanan kepada semua personel di sekolah terutama peserta didik.

5. Manajemen Sekolah

Sebagai unsur yang ke lima yang termasuk ke dalam strategi efektif dalam pengembangan SLB adalah unsur manajemen sekolah. Manajemen sekolah adalah suatu pengelolaan terhadap semua bidang garapan sekolah seperti kesiswaan, ketenagaan, kurikulum sarana dan prasarana, keuangan, serta kemitraan dengan masyarakat. Dengan manajemen yang baik maka semua sumber daya yang ada akan secara sinergi berdayaguna menuju keberhasilan suatu sekolah mencapai tujuan pendidikan  yang telah dituangkan dalam kurikulum sekolah.

Selengkap dan sehebat apa pun kurikulum, kebijakan sekolah, personil sekolah, sarana dan prasarana sekolah tetapi tanpa dimanaje dengan baik tentu fasilitas-fasilitas tersebut tidak akan menunjang keberhasilan pendidikan secara optimal. Dengan manajemen sekolah yang baik maka semua sumberdaya yang ada akan bersinergi berdayaguna dalam menuju tercapainya pendidikan yang bermutu. Di sinilah pentingnya  seorang kepala sekolah harus mempunyai kemampuan menajerial dalam mengelola sekolah. Mengenai manajemen sekolah dijelaskan oleh Hadiyanto (2004 : 66) sebagai berikut :

Apabila ditelusuri lebih jauh, kemampuan yang harus dimiliki kepala sekolah itu mencakup fungsi-fungsi manajemen pendidikan seperti perencanaan, pengorganisasian, penkoordinasian, pengkomunikasian, kepemimpinan, pengawasan, supervisi dan evaluasi, serta mencakup substansi  dari manajemen itu sendiri seperti kurikulum, peserta didik, biaya pendidikan, sarana dan prasarana, tenaga kependidikan, hubungan sekolah dengan masyarakat serta layanan khusus seperti perpustakaan/pusat sumber belajar, laboratorium, dan asrama.

Untuk mengelola  pendidikan di sekolah dapat dikembangkan dengan manajemen berbasis sekolah  yaitu suatu strategi untuk memperbaiki mutu pendidikan melalui pengalihan otoritas pengambilan keputusan dari pusat ke masing-masing sekolah. Dengan MBS  ini sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar untuk menentukan pengembangan sekolahnya  dengan mengelola segala sumber daya yang ada. ”Kemampuan ’leadership’ dan manajemen dari kepala sekolah dan kesediaan sumber yang memadai merupakan persyaratan bagi keberhasilan MBS” (Hadiyanto, 2004 : 68).

Salah  satu  kompetensi  yang harus  dimiliki  oleh  seorang  kepala sekolah

Adalah  kompetensi  manajerial,  karena  salah satu peranan kepala sekolah adalah

sebagai manajer. Hadiyanto (2004:55) menjelaskan bahwa :

Kepala sekolah adalah manajer pendidikan tingkat sekolah dan ujung tombak utama dalam mengelola pendidikan di level sekolah. Kepala sekolah memegang peran paling penting (privotal role) untuk keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah, dan oleh karena itu kepala sekolah harus mempunyai kemampuan manajerial yang profesional dalam mengelola sekolahnya.

Kepala sekolah sebagai manajer mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan pendidikan di sekolah. Hal ini dapat dipahami karena ” Salah satu faktor yang membuat organisasi itu dapat berkembang adalah kompetensi manajernya.” (Made Pidarta, 2004:234). Jadi, maju mundurnya pendidikan di sekolah sangat besar dipengaruhi oleh faktor kompetensi manajernya, dalam hal ini kepala sekolah. Ditegaskan oleh Made Pidarta bahwa : ”Manajer yang mempunyai kompetensi yang memadai cendrung mampu meningkatkan orgnisasi, sebaliknya manajer yang kurang memiliki kompetensi cendrung membuat organisasi itu mandeg atau mundur.” Dengan demikian, seorang kepala sekolah harus dapat menerapkan konsep–konsep manajemen dalam mengelola pendidikan di sekolahnya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Perlu disadari bahwa setiap proses yang dilakukan, dengan sarana prasarana pendukungnya semua itu diarahkan guna mencapai tujuan. Oleh karena itu, agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan efisien harus dilakukan manajemen yang tepat. Mengenai manajemen dijelaskan oleh G.R. Terry (Hadriyanus Suharyanto dan Agus Heruanto Hadna, 2005 :11) sebagai berikut : ”Management is the accomplishing of the predetermined, objective through the effort of other people.” Maksudnya bahwa manajemen melakukan upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui atau bersama-sama dengan orang lain. Sejalan dengan pendapat G.R. Terry pengertian manajemen dikemukakan oleh John M. Pfifner (Hadriyanus Suharyanto dan Agus Heruanto Hadna, 2005 :12) sebagai berikut : ”Management  is concerned with the direction of this individuals and functions to achieve ends previously determined.” Yakni bahwa manajemen berkaitan dengan mengarahkan orang–orang dan tugas–tugasnya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Tanpa kemampuan manajerial, seorang kepala sekolah akan sulit melaksanakan tugasnya mengarahkan, membina, dan memberdayakan sumber daya yang ada guna meningkatkan mutu layanan pendidikan di sekolahnya. Padahal untuk menyiasati dan mencari solusi–solusi dalam mengatasi masalah pendidikan seperti masalah rendahnya mutu layanan pendidikan merupakan tugas seorang kepala sekolah sebagai manajer. Dan bukan suatu hal yang tidak mungkin masalah rendahnya mutu layanan pendidikan bisa jadi disebabkan oleh manajemen yang salah. Sesuai dengan permasalahan di atas Edward Sallis menjelaskan sebagai berikut : ”Sebagian besar masalah sedemikian disebabkan oleh manajemen yang lemah atau tidak mencukupi. Mengetahui sebab kegagalan mutu dan memperbaikinya adalah tugas kunci seorang manajer.” (Edward Sallis, alih bahasa Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, 2006:106).

Oleh karena itu, dalam upaya mengatasi masalah-masalah tersebut di atas maka kepala sekolah harus memiliki kemampuan manajerial sebagaimana dijelaskan oleh Hari Suderadjat (2005 : 42-54) yang tiada lain kemampuan dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan, dan evaluasi terhadap semua komponen di sekolah seperti kurikulum, personalia , kesiswaan, sarana prasarana, keuangan, dan lingkungan. Dengan kemampuan itu kepala sekolah akan dapat secara terarah menata dan mengelola pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga layanan pendidikan bermutu dapat terwujud.

Untuk kepentingan pengelolaan pendidikan BNSP menentukan standar kompetensi manajerial bagi kepala sekolah yang di dalamnya meliputi kompetensi-kompetensi sebagai berikut:

a. Menyusun perencanaan sekolah

Perencanaan merupakan suatu hal yang penting dalam setiap kegiatan, terlebih dalam kegiatan pendidikan di sekolah, karena penyelenggaraan pendidikan di sekolah merupakan suatu kebutuhan bagi setiap orang, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Penyelenggaraan pendidikan yang tidak direncanakan secara matang jangan diharap akan mencapai tujuan secara optimal. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai manajer di sekolah harus mempunyai kemampuan membuat perencanaan sekolah sesuai dengan visi dan misi sekolahnya. Sehingga segala tindakan, dan keputusan yang diambil oleh sekolah didasarkan pada perencanaan yang telah dibuat.  Dengan perencanaan yang matang akan dapat menentukan tujuan, prosedur, strategi, metode, indikator keberhasilan dan evaluasi sehingga perencanaan ini akan menjadi pedoman dalam melaksanakan  kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pengertian   perencanaan     menurut

Udin   Syaefudin   Sa’ud   dan   Abin  Syamsuddin  Makmun  ( 2006 :3-4 )  adalah sebagai berikut :

Pada hakekatnya perencanaan adalah suatu rangkaian proses kegiatan menyiapkan keputusan mengenai apa yang diharapkan terjadi (peristiwa, keadaan, suasana, dan sebagainya) dan apa yang akan dilakukan (intensifikasi, ekstensifikasi, revisi, renovasi, substitusi, kreasi, dan sebagainya).

Ahli lain yaitu Anen mendefinisikan perencanaan dengan mengatakan bahwa : “Planning is future thinking; planning is controlling the future; planning is decision making; planning is integrated decision making.” (Udin Syaefudin Sa’ud dan Abin Syamsuddin Makmun (2006 : 5).

Dari pengertian-pengertian perencanaan di atas dapat diuraikan bahwa fungsi dan tujuan perencanaan pendidikan di sekolah adalah sebagai berikut :

  1. Perencanaan merupakan pedoman dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
  2. Perencanaan berfungsi untuk mengendalikan kegiatan.
  3. Perencanaan berfungsi untuk efisiensi yakni menghindari pemborosan sumber daya.
  4. Perencanaan berfungsi untuk memberikan jaminan mutu (quality assurance).
  5. Perencanaan berfungsi untuk menjaga akuntabilitas kelembagaan.

Adapun hal-hal penting yang harus digarisbawahi dan dijadikan acuan  dalam pembuatan suatu rencana adalah sebagai berikut :

  1. Perencanaan berhubungan dengan masa depan yang lebih baik.
  2. Adanya seperangkat kegiatan yang logis.
  3. Adanya tahapan-tahapan proses yang tersusun secara sistematis.

Dapat meramalkan hasil serta tujuan yang diharapkan.

Kita ketahui bahwa   perencanaan  pendidikan   merupakan   suatu  hal  yang

sangat penting karena diperlukan dalam pengambilan keputusan  menyangkut tentang mutu pendidikan yang harus terus ditingkatkan. Dan perencanaan merupakan pedoman untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka mengubah keadaan yang dinilai kurang saat ini ke posisi yang lebih baik sesuai dengan yang diinginkan. Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa perencanaan pendidikan berkenaan dengan proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Hal tersebut  dapat dilihat dari pengertian perencanaan yang dikemukakan oleh Guruge (Udin Syaefudin Sa’ud dan Abin Syamsuddin Makmun, 2006 : 8) bahwa : ”A simple definition of educational planning is the process of preparing decisions for action in the future in the field of educatioinal development is the function of educational planning.” Guruge mengatakan bahwa perencanaan pendidikan merupakan proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan pendidikan adalah tugas dari perencanaan pendidikan.

Guna menghasilkan perencanaan pendidikan yang baik, kepala sekolah sebagai manajer harus memahami dimensi-dimensi yang terkait dengan proses perencanaan.  Mengenai dimensi-dimensi perencanaan  dikemukakan oleh  Udin Syaefudin Sa’ud dan Abin Syamsuddin Makmun  (2006 :53-54) ada sembilan dimensi yang terkait dengan proses pendidikan, yaitu :

  1. Significance, yaitu tingkat kebermaknaan perencanaan.
  2. Feasibillity, yaitu kelayakan teknis dan perkiraan biaya dilihat secara relistik.
  3. Relevance, yaitu diperlukan dalam implementasi rencana.
  4. Definitiveness, yaitu penggunaan teknik simulasi untuk menjalankan rencana dengan data model buatan, untuk meminimalkan hal yang tidak diharapkan.
  5. Parsimoniousness, yaitu perencanaan harus digambarkan secara sederhana.
  6. Adaptability, yaitu perencanaan harus dinamis dan dapat berubah sesuai dengan  perkembangan informasi.
  7. Time, yaitu siklus alamiah pokok bahasan pada perencanaan, dan merubah siatuasi yang tidak dapat dilakukan akibat keterbatasan-keterbatasan dalam meramalkan masa depan.
  8. Monitoring, yaitu untuk menjamin bahwa berbagai unsur rencana berjalan secara efektif.
  9. Subject matter, yaitu pokok bahasan yang akan direncanakan mencakup sasaran dan tujuan, program dan pelayanan, sumber daya manusia, sumber daya fisik, penganggaran, struktur pemerintahan, dan konteks sosial.

Dalam proses perencanaan pendidikan di sekolah melalui beberapa tahap mulai dari pembuatan visi dan misi sekolah, menentukan tujauan, melihat permasalahan-permasalahan melalui analisis lingkungan internal dan analisis lingkungan eksternal (ALI dan ALE), mengkonsepsikan dan merancang rencana, mengevaluasi rencana, dan revisi rencana, yang pada akhirnya implementasi rencana dan evaluasinya untuk memperoleh umpan balik.    Dengan      menempuh tahapan-tahapan seperti di atas akan diperoleh suatu perencanaan yang matang.

b.  Mengembangkan Organisasi Sekolah

Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal di dalamnya terdapat sekelompok orang yang bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan.

Dengan ciri-ciri seperti itu maka sekolah merupakan suatu organisasi. Sebagaimana dikemukakan oleh Sondang P. Siagian (20021:35) bahwa “ Organisasi merupakan gabungan sekelompok orang yang terikat secara formal dan hierarkis, serta bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.” Dengan demikian, maka kepala  sekolah sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai manajer pendidikan di sekolah  harus dapat mengembangkan organisasi di sekolahnya, dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan. Bila tidak dikembangkan secara baik organisasi sekolah ini akan statis dan tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya.  Organisasi sekolah dikembangkan sesuai dengan tujuan dan kondisi yang ada sehingga semua anggota yang ada dalam organisasi berkolaborasi secara sinegis dalam upaya mencapai tujuan. Hadari Nawawi (1982:87) menjelaskan bahwa :

Setiap kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus mampu memilih dan mempersiapkan bentuk organisasi yang sesuai dengan kondisi sekolahnya dan harus berusaha pula menerapkan asas-asas organisasi bilamana menghendaki tujuan secara efektif.”

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam upaya mengembangkan organisasi sekolah yaitu struktur organisasi, bentuk atau tipe organisasi, asas-asas organisasi, dan budaya organisasi.

c. Memimpin Sekolah dalam Pendayagunaan Sumber Daya Secara Optimal.

Dalam pasal 1 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan “Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana, dan prasarana.” (UU Sisdiknas, 2006 : 74).

Dari pengertian sumber daya pendidikan tersebut di atas dapat dikelompokkkan menjadi dua dimensi yaitu sumber daya manusia dan sumber daya material. Sumber daya manusia merupakan elemen yang paling strategis dalam organisasi, karena berjalan tidaknya kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan akan sangat ditentukan oleh prilaku-prilaku dan motivasi orang-orang yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya, kepala sekolah pertama-tama harus dapat memanaje sumber daya manusia, dalam hal ini para siswa, tenaga kependidikan  dan  personel   lainnya   yang  berpotensi untuk diberdayakan  demi

kepentingan kemajuan pendidikan di sekolah.

Siswa sebagai sumber daya pendidikan harus dikelola, sebagaimana dikemukakan oleh Aan Komariah dan Cepi Triatna (2006 : 55) bahwa :       “Manajemen sekolah yang efektif bagi bidang kesiswaan diarahkan untuk menumbuhkembangkan kecerdasan, minat dan bakat, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, dan untuk meningkatkan disiplin siswa.”

Sedangkan tenaga kependidikan dikelola secara profesional guna melakukan layanan pendidikan yang profesional. Pengelolaan profesional oleh kepala sekolah dalam masalah ketenagaan dilakukan secara komprehensif. Yakni mencakup seluruh aspek yang berkaiatan dengan keberadaan personel baik bidang keahlian, sikap, dan kepribadiannya maupun unsur kepuasan kerja para personel, sehingga para akhirnya para guru dan tenaga kependidikan lainnya memiliki kematangan intelektual, emosional, dan sosial untuk kepentingan layanan pendidikan.

Sumber daya manusia  lainnya dalam pendidikan adalah masyarakat. Aan Komariah dan Cepi Triatna (2006 : 57) mengemukakan bahwa : “Masyarakat merupakan mitra untuk mengembangkan sekolah. Sekolah tidak dapat maju pesat tanpa bantuan dari masyarakat. Oleh karena itu, kemitraan dengan masyarakat harus terus terjalin.” Berdaya guna atau tidaknya sumber daya masyarakat yang sangat potensial ini akan sangat tergantung pada kompetensi kepala sekolah dalam hal pengelolaan sumber daya pendidikan. Dengan demikian hal ini merupakan tantangan bagi kepala sekolah untuk selalu meningkatkan kemampuannya dalam hal manajemen sumber daya manusia untuk kepentingan pendidikan.

Dimensi yang kedua dari sumber daya pendidikan adalah sumber daya material, yang mencakup dana, sarana dan prasarana. Yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dalam mengelola sumber daya material ini meliputi pengadaan, pemanfaatan, dan pemeliharaannya, sehingga bermanfaat untuk memperlancar berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. Tanpa ada pengelolaan yang profesional, maka sumber daya material akan sia-sia, dan tidak akan memiliki nilai sama sekali untuk pendidikan karena “Berbagai sumber daya dan dana merupakan ‘benda mati’, maka sarana prasarana tersebut harus digunakan sedemikian rupa sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya selama mungkin.” (Sondang P. Siagian, 2002 : 2).

Dengan kemampuan kepala sekolah untuk melakukan pengelolaan sumber daya pendidikan secara menyeluruh dan profesional, maka seluruh sumber daya yang ada akan menjadi sesuatu yang dirasakan sangat penting untuk mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Dengan pengelolaan yang total atau menyeluruh dan secara profesional maka semua sumber daya pendidikan yang ada akan berperan secara simultan sehingga akan sangat besar dampak positifnya terhadap mutu layanan pendidikan dan keberhasilan pendidikan pada akhirnya. Di sini terihat bahwa sebagai kepala sekolah harus memiliki kemampuan profesional untuk kepentingan pengelolaan pendidikan, yakni mempunyai kemampuan manajerial, dan kemampuan akademik.

d.  Mengelola Perubahan di Sekolah

Sesuai  dengan  kompetensi  yang   harus   dimilikinya,  salah satu  “Tugas

kepala sekolah adalah menjadi agen perubahan (change agent) yang mendorong dan mengelola agar semua pihak termotivasi dan berperan aktif dalam perubahan tersebut.” (E. Mulyasa, 2006 : 181). Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang selalu berubah, maka mau tidak mau dalam dunia pendidikan pun selalu ikut berubah. Perubahan-peruibahan yang terjadi tentu ada faktor-faktor penyebabnya. Faktor pemicu terjadinya perubahan secara umum dikemukakan oleh Sondang P. Siagian (2002 : 207) sebagai berikut :

Faktor yang diakui secara umum sebagai pemicu perubahan ialah : a) konfigurasi tenaga kerja, b) terobosan di bidang teknologi, c) ketidak pastian di bidang ekonomi, d) persaingan yang makin ketat, e) gejala-gejala sosial, f) pergeseran nilai-nilai moral dan etika, dan g) situasi politik.

Senang maupun tidak senang suatu perubahan akan selalu terjadi, baik akibat pengaruh internal ataupun pengaruh eksternal. Oleh karena itu, perubahan yang terjadi di sekolah  harus direspon secara positif yakni dengan cara mengelola perubahan, yakni diarahkan dan dikembangkan menuju terwujudnya organisasi pembelajar yang efektif. Sondang P. Siagian (2002 : 206) mengemukakan bahwa :

Perubahan yang diperkirakan akan terjadi harus dapat diantisipasi dan siap mengambil langkah-langkah untuk “menampung” dampaknya. Bahkan apabila mungkin dampak tersebut diubah menjadi peluang bagi organisasi dalam upaya mencapai tujuan dan berbagai sasarannya termasuk tujuan dan sasaran pribadi para anggotanya.

Dalam upaya mengelola perubahan agar menjadi sesuatu hal yang bermanfaat bagi berlangsungnya proses pendidikan di sekolah, maka terlebih dahulu harus dilakukan analisis SWOT. Analisis SWOT di sini dimaksudkan untuk menganalisis kekuatan-kekuatan yang dimiliki sekolah, kelemahan-kelemahan yang mungkin ada di sekolah, kemampuan memanfaatkan peluang yang timbul akibat adanya perubahan, dan menganalisis kemampuan untuk menghadapi berbagai ancaman. Kepala sekolah harus dapat menyiasati bagaimana cara yang harus ditempuh agar kelemahan-kelemahan yang ada  dapat berubah menjadi kekuatan, dan bagaimana pula cara yang harus ditempuh agar ancaman atau tantangan dapat berubah menjadi suatu kesempatan. Kekuatan dan kesempatan yang timbul akibat terjadinya perubahan selanjutnya dikelola sehingga mendukung terciptanya organisasi pembelajar atau sekolah yang efektif.

Dalam upaya mengelola perubahan di sekolah ada beberapa tahap yang harus dilakukan (E. Mulyasa, 2006 : 186) sebagai berikut :

1.  Menemukan. Pada  tahap ini  kepala sekolah berupaya menemukan hal-hal  yang harus diatasi.

2.  Mengkomunikasikan. Masalah yang telah ditemukan dikomunikasikan dengan pihak-pihak terkait untuk mendapat kejelasan tentang masalah yang telah ditemukan.

3. Mengkaji dan menganalisa. Masalah yang   ditemukan dan telah dikomunikasikan pada tahap ini dikaji secara cermat untuk mencari faktor-faktor penyebabnya melalui data-data yang relevan.

4.  Mencari dukungan. Untuk meyakinkan bahwa masalah benar-benar terjadi, kepala sekolah mencari sumber, baik orang maupun sarana yang menguatkan adanya masalah dan mencari jalan untuk melakukan perubahan.

5. Menerima perubahan. Pada tahap ini perubahan dimulai, sebagai problem solving untuk memecahkan masalah.

Sebagai kepala sekolah yang profesional tentu akan mampu menghadapi dan mengelola perubahan yang terjadi. Yakni kepala sekolah yang memiliki visi tentang gambaran sekolah yang dicita-citakan, serta memiliki kemampuan membimbing, memotivasi, dan mengorganisasikan tenaga kependidikan, masyarakat, dan lingkungan sekitar dengan baik.

e.  Menciptakan Budaya dan Iklim Sekolah yang Kondusif dan Inovatif

Berbagai upaya yang dilakukan dan sumber daya yang tersedia di sekolah semuanya harus bermuara pada pembelajaran peserta didik. Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh kepala sekolah agar proses pembelajaran berjalan secara efektif, maka kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik. Aan Komariah dan Cepi Triatna (2006 :101) menjelaskan bahwa sekolah memiliki budaya tersendiri sebagai berikut :“Sekolah sebagai organisasi, memiliki budaya tersendiri yang dibentuk dan dipengaruhi oleh nilai-nilai, persepsi, kebiasaan-kebiasaan, kebijakan-kebijakan pendidikan, dan prilaku orang-orang yang ada di dalamnya.”

Hal yang esensial dari budaya adalah unsur nilai-nilai, kepercayaan, sikap dan prilaku yang kesemuanya itu akan membentuk karakter sekolah. Unsur-unsur tersebut sangat penting bagi terciptanya iklim yang kondusif  bagi kelangsungan proses pendidikan.  Oleh karena faktor budaya dapat berpengaruh terhadap unsur-unsur lain yang ada di sekolah, maka kepala sekolah harus dapat menciptakan dan mengembangkan  budaya sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran siswa. Mengenai masalah budaya sebagaimana dimaksud di atas dijelaskan oleh Syafaruddin ( 2002 : 99 ) bahwa :

Budaya bersifat dinamis bukan statis. Dorongan budaya ini bertolak dari visi organisasi mengenai apa yang dapat dicapai dan strategi lembaga untuk menolong dorongan budaya agar melakukan perubahan organisasi. Budaya organisasi sekolah ini yang akan menentukan perbaikan mutu dalam kontek kepemimpinan sekolah.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi budaya sekolah diantaranya kepemimpinan kepala sekolah, nilai-nilai masyarakat sekolah, kondisi sekolah, tantangan-tantangan yang ada di sekolah, dan perubahan yang terjadi. Hal yang perlu diingat bahwa kepala sekolah sebagai puncak pimpinan akan sangat berperan dan sangat mewarnai corak budaya sekolah. Mengenai hal itu dikemukakan oleh Safaruddin (2002 : 99) bahwa “Perubahan budaya sekolah pada pokoknya ditentukan oleh atmosfer budaya yang dikembangkan oleh kepala sekolah bersama dengan guru-guru.”

Pembelajaran yang efektif karena budaya sekolah yang kondusif dan inovatif, akan makin bermakna dan meningkatkan keberhasilan pembelajaran bila didukung dengan diciptakannya iklim sekolah yang kondusif. Pengembangan iklim sekolah dalam upaya mewujudkan mutu pembelajaran merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh kepala sekolah. Dikemukakan oleh Hadiyanto (2004 :177) bahwa “Iklim sekolah adalah suasana sosial psikologis  di mana iklim kelas berada di dalamnya.” Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa mutu pembelajaran akan berkorelasi positif dengan iklim sekolah yang kondusif, karena bagaimana mungkin pembelajaran berjalan dengan baik manakala suasana sosial psikologis yang ada tidak kondusif. Lebih lanjut Hadiyanto (2004 : 178) menjelaskan bahwa “ Iklim sekolah merupakan kualitas dari lingkungan sekolah yang terus menerus dialami oleh guru-guru, mempengaruhi mereka dan berdasar pada persepsi kolektif tingkah laku mereka.”  Jadi, jelaslah bahwa iklim sekolah yang merupakan gambaran kualitas lingkungan sekolah, merupakan faktor yang penting untuk diciptakan, dan dikelola oleh kepala sekolah agar iklim sekolah menjadi kondusif dan inovatif bagi kelancaran pembelajaran.

Dalam melaksanakan manajemen sekolah ini dapat berpedoman pada Permendiknas No. 19 Tahun 2007  tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Di dalamnya berisi tentang segala hal yang harus dibuat dan dilaksanakan dalam rangka mengelola sekolah.

.

BAB III.

PEMBAHASAN

A.  Penerapan Strategi Efektif dalam Pengembangan SLB

Berpijak pada realita yang ada di lapangan termasuk gambaran dari output Sekolah Luar Biasa masih mencerminkan perlunya upaya-upaya peningkatan dan penyempurnaan dalam segala aspeknya agar menjadi sekolah yang bermutu. Sesungguhnya upaya untuk menuju ke arah itu selalu dilakukan, perhatian dari pemerintah dari tahun ke tahun tampak semakin baik. Baik itu menyangkut fasilitas, sarana prasarana, ketentuan-ketentuan berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Permendiknas, di dalamnya termasuk Standar Nasional Pendidikan  sebagai acuan untuk meningkatkan mutu persekolahan termasuk SLB, sekaligus peningkatan kesejahteraan ketenagaannya, seperti adanya tunjangan profesi yang tertuang dalam UU No. 14 tahun 2005, adanya tunjangan IBK bagi pendidik dan tenaga kependidikan SLB, serta tunjangan-tunjangan lainnya. Namun  dapat dikaji dampak dari semua itu masih perlu disempurnakan dalam penerapannya di lapangan dalam hal ini sekolah, karena keberhasilan suatu pendidikan tergantung pada pelaksanaan lapangan di sekolah sebagai ujung tombak pendidikan.

Berdasarkan pada pemikiran tersebut di atas maka untuk dapat mengembangkan Sekolah Luar Biasa diperlukan suatu stragtegi yang efektif untuk mengembangkan Sekolah Luar Biasa menjadi sekolah yang bermutu. Strategi efektif adalah suatu teknis atau langkah-langkah yang tepat untuk mengembangkan sekolah agar menjadi lembaga pendidikan yang bermutu sesuai dengan yang diharapkan.

Ada lima unsur yang sangat berpengaruh sebagai strategi efektif untuk mengembangkan SLB. Kelima unsur yang tercakup ke dalam strategi efektif pada akhirnya harus menjadi satu kesatuan yang bersinergi sebagai syarat untuk terwujudnya sekolah yang bermutu, walaupun dalam penerapannya dapat dilakukan secara bertahap dengan prioritas-prioritas sebagai hasil pertimbangan sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.

Adapun penerapan kelima unsur strategi efektif  dalam pengembangan sekolah adalah sebagai berikut :

1. Kurikulum

Penyempurnaan Kurikulum Tingkat  Satuan Pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi, modifikasi, revisi, dan inovasi  terhadap kurikulum yang telah dilakukan sebelumnya.

Evaluasi terhadap kurikulum dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat keberhasilan yang telah dicapai, memperoleh gambaran tentang kelemahan-kelemahan, kekurangan, sampai penyebab-penyebab dari adanya lemahnya kurikulum tersebut. Dengan itu semua dapat dijadikan sebagai suatu dasar dalam penyusunan KTSP yang lebih sempurna. Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan pada tahap selanjutnya dapat dilakukan suatu modifikasi, atau revisi sehingga KTSP lebih valid, reliable, dan fleksible.

Sebagai suatu terobosan yang sangat penting untuk dilakukan juga harus berani melakukan invasi-inovasi dalam penyusunan KTSP. Dengan melakukan inovasi dalam penyusunan KTSP tentu kurikulum yang dicanangkan akan lebih dinamis yang akan berdasar pada pengalaman masa lalu, berpijak pada kondisi yang ada saat ini serta akan selalu berorientasi ke masa depan.

Untuk meperoleh suatu kurkulum yang credible dan akuntabel maka dalam penyusunannya harus melibatkan semua stakeholders yang terkait. Hal ini dilakukan agar semua harapan, dan semua keperluan dapat teakumulasi dalam KTSP.

2. Kebijakan Sekolah

Kebijakan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dapat berjalannya semua organ yang ada di sekolah, karena untuk terwujudnya suatu sekolah yang bermutu tidak ada satu organ pun yang boleh kondisinya dalam posisi lemah. Kebijakan ini merupakan suatu rambu-rambu yang harus ditaati oleh semua organ yang ada dalam melaksanakan pengelolaan sekolah.

Sekolah merupakan ujung tombak pelaksanaan pendidikan, sehingga berdayagunanya segala fasilitas yang ada tetap tergantung pada pelaksanaannya di sekolah. Semua kegiatan yang ada di sekolah, baik buruknya pelaksanaan pengajaran dan pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh kebijakan yang ada di sekolah. Dengn demikian begitu pentingnya kedudukan Kebijakan Sekolah dalam upaya pengembangan SLB, sehingga setiap SLB sangat perlu untuk membuat suatu kebijakan sekolah sebagai komitmen bersama dalam melaksanakan proses pendidikan.

Kebijakan Sekolah merupakan hasil kesepakatan bersama semua stakeholders pendidikan di lingkungan sekolah yang berkenaan dengan tata aturan dalam melaksanakan proses pembelajaran maupun segala hal yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan sekolah dalam menjalankan fungsinya. Tanpa adanya kesepakatan atau kebijakan sekolah maka pelaksanaan pendidikan di sekolah tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

Pendek kata sebagai salah satu strategi efektif dalam pengembangan sekolah maka harus dibuatlah suatu Kebijakan Sekolah, yang merupakan kebijakan operasional sebagai pengejawantahan dari kebijakan-kebijakan yang lebih tinggi.

3. Profesionalisme Ketenagaan

Dalam organisasi apa pun yang tentunya hendak mencapai suatu tujuan bersama, unsur manusia adalah sebagai unsur penentu keterlaksanaan segala program dan rencana yang telah dibuat. Tingkat ketercapaian suatu tujuan sangat ditentkan oleh unsur manusianya.  Oleh karena itu untuk mengelola suatu pendidikan di sekolah diperlukan ketenagaan yang memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang kompeten untuk terciptanya sekolah yang bermutu.

Pemerintah telah mengeluarkan ketentuan yang berkenaan dengan ketenagaan di sekolah diantaranya dengan mengeluarkan Permendiknas. Permendiknas No. 12 tahun 2007 tentang Kompetensi Pengawas Sekolah,  Permendiknas No. 13 tahun 2007 tentang kompetensi Kepala Sekolah, Permendiknas No. 16 taun 2007 tentang Kompetensi Guru. Itu semua ketentuan yang berkaitan dengan ketenagaan yang paling bertangung jawab secara operasional di sekolah.

Sebagai tenaga yang profesional, pengawas sekolah harus memiliki Kompetensi Kepribadian, Supervisi manajerial, Supervisi Akademik, Evaluasi Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan, dan Kompetensi Sosial. Kepala sekolah harus memiliki Kompetensi Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi, dan Sosial. Demikian pula seorang guru harus memiliki Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Sosial, dan Profesional.

Semua kompetensi yang harus dimiliki oleh personil-personil yang ada tentunya tidak akan terjadi dengan sendirinya tetapi harus diupayakan melalui pelaksanaan pendidikan berkelanjutan yaitu dengan mengikuti : pendidikan  formal, diklat, penataran, workshop, dan pembinaan-pembinaan lainnya yang sekiranya dapat menjadi motivasi agar semua personil yang ada selalu berusaha untuk memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan serta merealisasikannya di sekolah.

4. Sarana Prasarana

Suatu program tidak aka berjalan dengan baik tanpa didukung oleh sarana dan prasarana, tentunya dengan segala keriterianya  sesuai dengan kebutuhan. Jadi, apabila SLB ingin berkembang secara optimal sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat maka unsur sarana dan prasarananya juga merupakan hal yang mutlak diperlukan.

Dalam penyediaan sarana dan prasarana ini dapat terwujud apabila ada kerjasama dan tanggung jawab secara penuh dari semua stakeholders pendidikan di sekola. Mulai dari pihak pemerintah yang secara serius menyediakan anggaran untuk penyediaan sarana dan prasaran pendidikan di sekolah, pihak orang tua, maupun masyarakat harus peduli terhadap perkembangan pendidikan yang merupakan tanggung jawab bersama.

Upaya yang dapat dilakukan untuk penyediaan sarana dan prasarana sekolah kiranya sejalan sekali dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga-tenaga yang ada di sekolah baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan yaitu kompetensi sosial. Maksud yang terkandung dalam kompetensi sosial ini tiada lain bahwa personil yang ada di sekolah harus dapat bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah yang salah satunya adalah penyediaan sarana dan prasarana.

5. Manajemen Sekolah

Sebagai unsur yang ke lima yang termasuk ke dalam strategi efektif dalam pengembangan SLB adalah unsur manajemen sekolah. Manajemen sekolah adalah suatu pengelolaan terhadap semua bidang garapan sekolah seperti kesiswaan, ketenagaan, kurikulum sarana dan prasarana, keuangan, serta kemitraan dengan masyarakat. Dengan manajemen yang baik maka semua sumber daya yang ada akan secara sinergi berdayaguna menuju keberhasilan suatu sekolah mencapai tujuan pendidikan  yang telah dituangkan dalam kurikulum sekolah.

Dengan kepemimpinan kepala sekolah sebagai manajer  di sekolah semua sumber daya yang ada semestinya dikelola dengan baik  Pembenahan untuk menuju ke arah itu dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

a. Kepala sekolah diupayakan harus memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai seorang manajer yang harus mengelola sekolah sebagai suatu organisasi yang bermutu demi mencapai tujuan pendidikan yang telah dituangkan dalam kurikulum sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti prinsip life long education atau utlubul ’ilmi minal mahdi ilalahdi.

b. Personil sekolah harus mengerti dan menguasai tugas dan fungsinya, yaitu melalui pembinaan-pembinaan, diklat, seminar, diskusi, dan sejenisnya.

c. Adanya pembagian tugas yang baik kepada semua personil sekolah. Artinya pembagian tugas itu dilakukan secara tepat (the right man on the rihgt place) serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan sebaik-baiknya dengan penuh tangung jawab.

d. Dilaksanakannya fungsi-fungsi manajemen dengan baik mulai dari planning, organizing, actuating, controling, dan evaluating.

B. Tahap-tahap Pelaksanaan Strategi Efektif dalam Pengembangan Sekolah

Sekolah Luar Biasa akan tercipta sebagai sekolah yang  bermutu apabila terpenuhi semua unsur yang diperlukannya sebagaimana tercakup dalam unsur strategi efektif pengembangn sekolah yaitu : kurikulum, kebijakan sekolah, tenaga yang profesional, sarana dan prasarana, dan manajemen sekolah. Untuk menuju ke ara itu diperlukan waktu, tenaga, pikiran, maupun dana. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya harus menempuh tahapan-tahapan yang pada saatnya semua unsur akan terpenuhi dengan baik. Tahapan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

a. Tahap perencanaan, yaitu :

  • Merancang dan menentukan tindakan-tindakan yang akan dilakukan dalam rangka menerapkan strategi efektif untuk pengembangan sekolah.
  • Menentukan prioritas unsur strategi efektif yang akan dikembangkan secara berkesinambungan.
  • Merancang jalinan kerjasama yang akan dilakukan dengan pihak-pihak lain.
  • Pembagian tugas-tugas kepada personil pelaksana pengembangan sekolah.
  • Menentukan waktu pelaksanaan pengembangan sekolah.

b. Tahap pelaksanaan, yaitu melaksanakan pengembangan sekolah dengan strategi efektif sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan sehingga pada suatu saat tercipta sekolah yang bermutu.

Indikator sebagai parameter dari sekolah yang bermutu adalah terbentuknya suatu sekolah yang mampu mendidik siswa agar berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya  sehingga memiliki life skill untuk dapat hidup mandiri dan mampu mengatasi persoalan-persoalan dalam kehidupannya serta beranfaat bagi dirinya sendiri,  lingkungan, bangsa dan negaranya.

Adapun kurun waktu yang diperlukan sampai terwujudnya sekolah yang bermutu  antara 3 sampai 5 tahun tergantung pada dukungan-dukungan  yang terhimpun. Lamanya waktu yang dibutuhkan berkaitan bahwa dalam pelaksanaannya perlu dilakukan secara bertahap, misalnya untuk penyempurnaan kurikulum ini mulai dari pembuatan sampai dengan uji coba  dan evaluasinya diperlukan waktu berkisar 1 tahun. Pembuatan kebijakan-kebijakan sekolah uji coba dan evaluasi sampai dengan revisinya juga memerlukan waktu sekitar 6 bulan. Pembinaan ketenagaan yang profesional memerlukan waktu berkisar 1 tahun, yaitu untuk pembinaan tenaga yang ada dan rekrutmen tenaga-tenaga yang diperlukan. Untuk penyediaan atau pembangunan sarana dan prasarana yang ideal  butuh waktu paling tidak 6 bulan – 1 tahun ini belum termasuk untuk penyediaan dana yang diperlukan.

BAB IV

KESIPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pada bagian akhir ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Perkembangan SLB pada saat ini sudah menunjukkan peningkatan-peningkatan, namun ditinjau secara realita di lapangan dan dibandingkan dengan standar kualitas yang ditentukan oleh BNSP dalam PP No. 19 tahun 2005 pengembangan SLB masih perlu disempurnakan.
  2. Kelemahan-kelemahan yang ada dalam pelaksanaan pembelajaran dan pendidikan di SLB perlu diimbangi dengan upaya strategi yang efektif guna mengembangkan SLB ke arah yang diharapkan.
  3. Upaya strategi efektif dalam pengembangan SLB mencakup hal-hal sebagai berikut : a) Penataan kurikulum yang lebih valid, reliable, dan fleksible. b) Adanya  Kebijakan Sekolah yang mendukung terhadap pengembangan SLB yang ideal. c) Pembinaan profesionalisme ketenagaan di SLB. d) Pemenuhan sarana dan prasarana  sesuai dengan yang diperlukan. e) Dilakukannya manajemen SLB yang efektif.

B. Saran

Sesuai dengan permasalahan yang ada pada bagian ini dapat berikan saran-saran sebagai berikut :

1. Kepada Dinas Pendidikan Provonsi Jawa Barat melalui Bidang Pendidikan Luar Biasa dan Badan Diklat SLB diharapkan untuk memberikan diklat, penataran, ataupun workshop yang lebih intensif kepada tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan Sekolah Luar Biasa dengan materi pembahasan tentang penyempurnaan kurikulum sekolah (KTSP), Kebijakan Sekolah, Pembinaan menjadi tenaga yang profesional atau kompetensi yang harus dimiliki oleh personil sekolah, teknik dan prosedur penyediaan sarana prasarana, dan pemahaman tentang manajemen sekolah.

2. Subsidi untuk penyediaan sarana dan prasarana yang diperlukan sekolah hendaknya ditambah porsinya.

3. Untuk menjadikan SLB menjadi sekolah yang bermutu dapat menerapkan strategi yang efektif dengan mengoptimalkan unsur-unsurnya yang mencakup kurikulum, kebijakan sekolah, tenaga yang profesional, sarana dan prasarana, dan manajemen sekolah.untuk mengembangkan SLB agar  proses pembelajaran dan pendidikan di SLB berkembang sesuai dengan yang diharapkan.

4. Dalam pengembangan sekolah semestinya berkolaborasi dengan semua pihak, sehingga beban yang berat untuk memenuhi unsur-unsur strategi efektif yang diperlukan dalam mengembangkan sekolah akan menjadi ringan dan pada akhirnya harapan untuk menciptakan sekolah yang bermutu akan tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

BSNP, 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta : BSNP.

Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.

Depdiknas. 2006. Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan dan Panduan Penyusunan KTSP, Jakarta : Depdiknas.

Hadiyanto. 2004. Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.

Komariah, Aan dan Cepi Triatna. 2006. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Bandung : Bumi Aksara.

Mulyasa, E..2006. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nawawi, H. Hadari. 1982. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta : Gunung Agung.

Pidarta, Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.

Sallis, Edward. Alih Bahasa Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi. 2006. Total Quality Management in Education (Manajemen Mutu Pendidikan). Jogjakarta : IRCiSoD.

Sa’ud, Udin Syaefudin dan Abin Syamsuddin Makmun. 2006. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Siagian, Sondang P..2002. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta : Rineka Cipta.

Suderadjat, Hari. 2005. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Bandung : Cipta Cekasa Grafika.

Suharyanto, Hadriyanus dan Agus Heruanto Hadna. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : Media Wacana.

Syafaruddin. 2002. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Konsep, Strategi dan Aplikasi. Jakarta : Grasindo.

____________.2005. Standar Nasional Pendidikan, PP RI No. 19 tahun 2005. Jakarta : LeKDiS.

____________. 2006. Undang-undang RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Permendiknas No. 11 tahun 2005 tentang Buku Pelajaran, PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Bandung : Citra Umbara.

____________. 2007. Mutu Layanan Pendidikan. Tertsedia : http//Google.pakguruonline [3-5-2007]

____________. 2008. Fungsi Sekolah. Tertsedia : http://www.balinter.net [22-12-2008]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: